|
/images/pd-batam-01.jpg
Batam (PD)
Keberadaan PD Batam di Kepulauan Riau boleh dibilang baru seumur jagung. Itu untuk menunjukkan bahwa kiprah mereka yang benar-benar menjadi sebuah organisasi yang tertata baru dimulai pada 19 Agustus 2006.
Sebenarnya, PD Batam sudah dirintis beberapa tahun sebelumnya oleh Mas Gundono (Pendekar). Beliaulah yang memulai kiprah dunia silat di Batam. Bersama Bapak Maman Mansyur darii perguruan Domas Cimande, dan seorang tokoh silat lainnya; mereka bertiga mendirikan Ikatan Pencak Silat Indonesia di Batam.
Akan tetapi kiprah IPSI Batam itu perlahan-lahan surut karena personel yang mengurusinya disibukkan oleh pekerjaan pokok mereka masing-masing. Padahal, kala itu, silat PD sudah mulai berkembang di sana.
Baru pada Desember 2005, ketika Mas Agus Winarno (strip Biru) yang berasal dari PD Palembang tiba di Batam, greget untuk menghidupkan PD Batam muncul kembali. "Saya hanya pernah mendengar kabar bahwa di Batam ada PD. Tapi di mana tempat latihannya. Maka saya mencari informasi dari milist. Saya bersyukur, akhirnya saya bisa bertemu Mas Ricky Mendoza (strip Biru) yang berasal dari PD Padang," kata Mas Agus Winarno.
Mas Agus mendatangi rumah Mas Ricky. Mereka bertemu, menggagas bersama sebuah tempat latihan. Karena kemudahan komunikasi dengan internet pula akhirnya mereka berdua juga bisa berjumpa dengan Mas Asfian (strip Biru) dari PD Solo. Mereka bertiga akhirnya bertekad bulat untuk mengembangkan PD kembali di tanah harapan Batam. Tempat latihan pertama berdiri di SMP Al Azhar, Batam. Dari situ kemudian berkembang terus dan kini sudah ada delapan ranting tempat berlatih. Jumlah anggota PD yang aktif berlatih lebih dari 100 orang.
Seiring dengan perkembangan PD, perguruan silat lainnya pun juga berkembang di Batam. Di sinilah tradisi silaturahmi, saling mengunjungi dan bersaudara diterapkan. Beberapa kali perguruan silat di Batam menggelar latihan bersama.
Personal PD senior pun mulai berdatangan di Batam. Mereka berasal dari berbagai daerah yang datang ke Batam sebagai perantau. Ada yang bekerja menetap, ada juga sebagai pekerja musiman. Jumlah anggota PD yang dibilang "senior" itu tingkatnya memang antara Putih Hiju hingga Biru ada 15 orang. Anggota PD paling senior adalah Mas Hadi Susanto (Merah Kuning) yang pada tahun-tahun terakhir ini mendapat tugas kerja di Batam.
== Prestasi ==
Meski masih berusia hijau, PD Batam langsung berusaha menggebrakkan langkah. Para pelatih menggembleng adik-adiknya yang masih baru belajar silat itu agar bisa ikut pertandingan di kancah Ikatan Pencak Silat Indonesia di tingkat kabupaten hingga provinsi. Bahkan di dalam lingkup PD, PD Batam mengirimkan pesilatnya untuk berlaga di arena Perisai Diri International Championship di Bandung (2007) dan di Jakarta (2010). Di Bandung, Mas Ricky Mendoza mampu menyabet medali emas untuk nomor pertarungan kelas Bebas Khusus.
Ada juga Marcos, pesilat pemula gemblengan PD Batam ini mampu melaju hingga babak final pada Open Tournament yang diikuti oleh enam negara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei, dan Vietnam.
"Kami juga mampu meloloskan dua pesilat untuk bisa berlaga di arena Pekan Olahraga Wilayah A (Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bangka Belitung) pada 2011 nanti," kata Mas Ricky.
Dua pesilat itu adalah Marcos di kelas G Putra dan Siti Annisa di kelas C Putri. Mereka mendapat tiket untuk mewakili Provinsi Kepulauan Riau pada PorWil 2011.
Untuk bisa lolos menjadi wakil Provinsi Kepulauan Riau, PD Batam mengirimkan 26 pesilatnya. Mereka bersaing dengan belasan perguruan yang berasal dari tujuh kabupaten/kota di Kepulauan Riau dalam kancah Pekan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau yang berlangsung 4 - 11 Desember 2010.
Karena ada pertandingan yang membawa nama PD itulah maka tidak ada personel PD Batam yang bisa datang ke arena Munas PD di Surabaya. Mereka memilih berkonsentrasi untuk menunjukkan bahwa PD yang baru seumur jagung di Batam itu mampu unjuk gigi. Mampu bersuara lantang, dan mampu meraih yang terbaik.
Marcos di final mengalahkan juara bertahan kelas G Putra andalan Kotamadya Tanjung Pinang. Marcos adalah pesilat yang naik kelas. Pada Porprov sebelumnya ia turun di kelas F.
Marcos pada babak penyisihan menumbangkan pesilat Tanjung Balai Karimun dengan angka telak 5-0. Lalu di semifinal merontokkan jago dari Kabupaten Natuna juga dengan 5-0.
Pada babak final, Marcos sempat dijatuhkan dua kali oleh pesilat Tanjung Pinang itu. Akan tetapi perjuangan keras pesilat PD ini membuahkan hasil. Ia mampu menambah angka dengan teknik jatuhan pada babak ketiga, dan tendangan T Marcos lebih sering bersarang di dada lawan. Sementara tendangan sabit kanannya berkali-kali menerpa perut tanpa terelakkan. Saponjut pendeta kanan menjadi andalan pamungkas bila tendangan kakinya ditangkap lawan. Marcos menang dan berhak mewakili Provinsi Kepulauan Riau.
Sementara Siti Annisa yang turun di kelas C Putri harus berjuang keras untuk meraih medali emas. Pada babak penyisihan ia mengalahkan pesilat dari Kabupaten Bintan dengan 5-0. Lalu di babak final menenggelamkan harapan pesilat andalah Tanjung Balai Karimun juga dengan 5-0. Senjata andalan T kiri dan lompat egos sabit kanan menjadi sarana pengumpul nilai yang ampuh.
Bagi Saudara-saudara PD yang ingin melihat lebih jauh mengenai PD Batam, silakan mengunjungi blogspot Mas Agus di http://bungasepasang.blogspot.com/. (*)
|