|
/images/img_0297.jpg
The Jakarta Post/Yogyakarta,
Lelaki berpostur atletis ini murah senyum. Tutur katanya halus. Siapapun tidak akan menyangka bila guru sekolah ini ternyata seorang jagoan pencak silat. Dia adalah salah satu andalan kontingen Indonesia pada SEA Games 1987 yang digelar di Jakarta pada masa lalu.
"Waktu itu nomor pencak silat baru pertama kali dipertandingkan. Indonesia yang dikenal sebagai negara asal pencak silat berusaha keras memperkenalkan olahraga beladiri tradisional ini ke dunia internasional. Caranya, ya dengan mempertandingkan di arena SEA Games," kata Tony ketika berkunjung ke Yogyakarta pada April 2010 lalu.

Namun bukan hal yang mudah mengembangkan pencak silat untuk masuk menjadi olahraga yang dipertandingkan di kancah pesta olahraga multievent seperti SEA Games. "Negara yang ikut semua pasti ingin memperoleh medali. Di sinilah tantangan Indonesia sebagai asal pencak silat," kata lelaki usia 48 tahun ini.
Baru pertama kali berlaga di arena SEA Games, ternyata Tony langsung menghadapi tantangan sangat berat. Ketua Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia Eddy Marzuki Nalapraya yang juga sebagai Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) menghendaki harus ada penyebaran medali emas agar cabang ini bisa tetap dipertandingkan pada SEA Games berikutnya.
Strategi untuk mengembangkan pencak silat melalui cara "toleransi bagi medali" mau tidak mau harus menelan korban pesilat Indonesia sendiri. Itulah tantangan berat bagi 16 pesilat, lima di antaranya pesilat putri.
"Di atas kertas, kami, pesilat Indonesia pasti memperoleh medali emas. Kami digembleng dalam training centre yang keras selama sembilan bulan. Semua demi memikul tanggungjawab membela Indonesia," kata Tony.
Akan tetapi ketika ada wacana lebih besar lagi yang harus diemban para pesilat itu, yakni mengembangkan pencak silat ke seluruh dunia; dan itu jelas membawa nama Bangsa Indonesia; maka kerelaan berkorban yang tulus menjadi tantangan sendiri.
Kala itu SEA Games 1987 digelar pada bulan September. Seluruh pesilat Indonesia masuk babak final. Itu artinya 16 emas dipastikan akan menambah pundi-pundi perolehan medali emas Indonesia yang menargetkan sebagai juara umum SEA Games.

"Sehari sebelum pertandingan final, tiba-tiba Pak Eddy (Ketua PB IPSI Eddy Marzuki Nalapraya) mengajak semua pesilat makan pagi bersama. Seusai sarapan pagi itulah Pak Eddy menjelaskan strategi pengembangan pencak silat agar go international. Intinya, tiga pesilat harus mau kalah di final. Agar pasti kelas mana yang harus kalah, Pak Eddy langsung menunjuk yakni kelas A putra, kelas A putri, dan kelas F putra. Artinya, saya adalah salah satu pesilat yang harus mengalah di final itu," kata Tony.
Keterangan Tony Widya itu memang diakui oleh Eddy Marzuki Nalapraya dalam beberapa kesempatan. Pada tahun 2005, ketika ia memberikan sambutan di arena pembukaan Perisai Diri International Championship di Yogyakarta maupun pada tahun 2007 pada Perisai Diri International Championship di Bandung; ia mengungkapkan strategi mengalah demi pengembangan pencak silat tersebut.
Kelas A putri (40 - 45 kg) adalah Rina Widawati dari Jakarta, pesilat kelas A putra Deddy Marani (Papua), dan pesilat kelas F putra (65 - 70 kg) Tony Widya (Jakarta). Emas itu harus "diberikan" untuk kontingen Singapura, Malaysia, dan Brunei Darrussalam.
"Saya terkejut. Namun mau menerima. Ini adalah amanah demi pengembangan pencak silat. Namun di arena sangat sulit melaksanakan. Siapapun yang bertanding di arena pasti kemauannya ingin menang. Nah, di sini saya harus mengalah. Bagaimana caranya? Sementara penonton, pecinta silat, adik-adik seperguruan saya; semua menginginkan saya menang," kata Tony.
Lawan Tony kala itu adalah Zabidi Ali dari Brunei Darrussalam. Untuk sekedar menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya bisa memenangkan pertandingan, Tony Widya melancarkan beberapa serangan telak yang mengenai sasaran dengan akurat. Bahkan sebuah teknik supit udang -- teknik menjatuhkan lawan dengan kaki digunakan menggunting dan memuntir tubuh lawan -- ia lancarkan.
"Lawan saya jatuh. Namun karena beberapa teknik serangan itu, ia menjadi takut, tidak mau menyerang saya. Ini yang menjadi saya makin bingung. Saya berusaha mendekat agar dia melancarkan serangan. Saya tidak akan mengelak agar serangan itu kena," kata Tony.
Akhirnya, Zabidi Ali pun menyerang Tony. Sebuah tendangan ringan menerpa Tony. Pesilat Indonesia ini pun langsung pura-pura cedera parah. Ofisial pun melempar handuk tanda menyerah.

"Yang marah adalah penonton. Hingga kini saya masih ingat ada penonton yang berteriak: pertandingan sabun!!! Artinya kekalahan itu diatur. Yang kasihan adalah adik-adik seperguruan saya. Mereka menangis. Mereka tidak rela saya kalah kontroversial seperti itu. Mereka tidak tahu, demi pengembangan pencak silat saya secara tulus rela mengalah seperti itu," kata pengajar SMA Kristen Penabur Jakarta ini.
Mengenai pemilihan pesilat yang harus mengalah itu ternyata juga sulit, kata Joko Widodo (50 tahun), pesilat kelas B putra (45 - 50 kg), rekan satu tim pencak silat Tony Widya, sesama pesilat dari perguruan Perisai Diri.
"Saya sebenarnya salah satu pesilat yang diminta untuk mengalah. Akan tetapi salah satu anggota Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia memberi masukan kepada Pak Eddy Marzuki Nalapraya. Bila saya yang harus mengalah, akan terlalu terlihat sebab permainan silat saya di arena memiliki gaya yang khas. Gaya saya yang selalu melompat-lompat dan selalu mengejar lawan, sangat sulit untuk bisa mengalah di arena. Harus ada gaya lain yang lebih lembut yang bisa tidak begitu kentara bila mengalah," tutur Joko Widodo.
Joko Widodo yang pernah menjadi juara dunia pencak silat dua kali berturut-turut ini juga menambahkan, ia menjadi saksi mata ketika penunjukan tiga pesilat yang harus mengalah di final. "Semua pesilat terkejut. Bahkan Rina terlihat yang paling sangat terkejut. Akan tetapi strategi itu ternyata membuahkan hasil. Pencak silat tetap menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di arena SEA Games selanjutnya," katanya.
Dari 16 pesilat Indonesia, 13 di antaranya menyabet medali emas, sementara tiga emas memang sengaja dilepas untuk Singapura, Malaysia, dan Brunei. Waktu itu peraih medali emas mendapatkan bonus Rp 1 juta. Sementara tiga pesilat yang diwajibkan mengalah tetap mendapat bonus yang sama dari Pengurus Besar IPSI.
Dan "medali emas" SEA Games 1987 itu baru diberikan oleh Eddy Marzuki Nalapraya pada 24 November 2006 kepada tiga pesilat itu dalam acara halal bihalal Forum Silaturahmi Pencak Silat DKI Jakarta di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Strategi Eddy Marzuki Nalapraya memang berbuah. Pencak silat makin mendunia. Bahkan di arena SEA Games, kekuatan cabang pencak silat makin merata dengan munculnya tim tangguh dari Vietnam. Beberapa pelatih silat Indonesia melatih di Vietnam, Thailand, hingga Laos.
Strategi mengalah itu ternyata tidak dilakukan oleh cabang gulat yang juga baru pertama kali dipertandingkan pada SEA Games 1987. Sebanyak 15 medali emas diborong para pegulat Indonesia. Akibatnya, cabang ini tidak masuk daftar cabang yang dipertandingkan pada SEA Games berikutnya.
Kini Tony Widya makin murah senyum ketika pencak silat benar-benar mendunia. Bahkan, ia menyanggupkan diri menjadi Ketua Panitia penyelenggaraan kejuaraan dunia perguruan silat Perisai Diri -- tempat ia berlatih-- yang berlabel Perisai Diri International Championship 2010 di Jakarta pada Juli mendatang.
"Saya merasa tersanjung. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga seorang pendekar silat, berkenan menjadi tuan rumah pengukuhan Rachmat Gobel, pengusaha muda, bos PT Panasonic Gobel Internasional menjadi ketua kehormatan Perisai Diri pada 10 April 2010 lalu. Kami para pesilat juga diberi kesempatan menikmati sajian tarian kraton hingga berfoto di Kraton Yogyakarta," kata Tony.
Bagi Tony, pencak silat adalah jalan hidup yang ia lalui. Lewat silat ia menemukan jatidiri. Demi silat ia rela melepas medali emas SEA Games. Kini, di pundaknya, ia masih harus bertanggungjawab menggelar kejuaraan dunia silat yang akan diikuti sekitar 500 pesilat dari 10 negara. (*)
Diterjemahkan dari artikel di The Jakarta Post.

|