Wednesday February 22, 2012

Quote Of The Month

"Siapa saja yang ingin mencapai sukses, haruslah mendaki dan memanjatnya; bukan melompatinya..."

(R.M.S. Dirdjoatmodjo - Pendiri Perisai Diri)

bannerforum

News Feeds:
Mas Whook, Sang Pendekar Tanpa Aba PDF Print E-mail
Written by Herdjoko   
Tuesday, 16 November 2010 14:00

 

PUKULAN bertubi-tubi tersebut tidak terelakkan oleh bocah berusia 12 tahun itu. Dua tangannya yang sedang membawa rantang (sejenis mangkuk dari seng) berisikan bakso panas tidak memungkinkan untuk menangkis serangan beruntun tersebut.

"Saya menjadi sasaran empuk pukulan teman-teman saya sekampung yang nakal. Bila rantang itu saya lepaskan, maka bakso itu akan tumpah. Ibu memang sedang meminta saya membeli bakso," kata Mas Whook (Wuk) di usianya yang ke-67 tahun saat ngobrol santai di rumahnya di Jalan Kaliurang Yogyakarta pada tahun 2005.


Perkelahian antar-bocah pada masa itu memang wajar terjadi. Mereka umumnya memiliki semacam strategi tradisional agar menang dalam berkelahi. Bila kalah dalam duel satu melawan satu, maka cara keroyokanlah strategi tepat menaklukkan "lawan". Bila keroyokan masih dirasa kurang unggul, maka menanti "lawan" lengah, itulah cara yang jitu.

"Saya jelas tidak menyangka tiba-tiba dihadang dan dikeroyok ketika sedang membawa bakso panas. Akibatnya wajah saya menjadi sasaran empuk. Ketika pulang, Ibu tahu saya baru saja dihajar rekan-rekan sebaya," kata Mas Whook yang bernama asli Raden Mas Bambang Mudiono Probokusumo ini sembari tersenyum kecut mengenang masa kecilnya.

Kisah serantang bakso pada tahun 1951 itu pun bergulir. Ibunda Mas Whook yang bernama Raden Ayu Siti Andawiyah binti Raden Mas Kusumo Hamijoyo tidak tega bila anaknya menjadi sasaran empuk anak-anak nakal. Maka ia menyerahkan tiga anak lelakinya, Raden Mas Warsito Rubiyanto (Mas Warsito), RM Bambang Moediono Probokusumo (Mas Whook), dan RM Murti Kusumo (Mas Son) untuk belajar silat kepada Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo (Pak Dirdjo). Tujuannya adalah agar anaknya bisa beladiri dan tidak menjadi sasaran kenakalan rekan-rekannya.

Akhirnya bukan hanya tiga bersaudara itu saja, dua adik mereka RM Sujadi Purwantono (Mas Tinyuk) dan gadis kecil Raden Rara Sri Sayekti Donowati (Mbak Kencik) juga ikut belajar silat. Pasangan Raden Sardjono dan RA Siti Andawiyah sepakat menyerahkan lima anaknya untuk mendapat pelajaran ilmu silat dari Pak Dirdjo yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Ibunda Mas Whook yang kala itu bekerja di Dinas Sosial Yogyakarta jelas tahu kepada siapa lima anaknya harus belajar silat.

"Waktu itu Pak Dirdjo melatih silat dengan metode kursus dan privat. Nama Perisai Diri belum muncul (baru muncul pada 2 Juli 1955 di Surabaya -- penulis)," kata Mas Whook.

 

 


Menghargai Murid

Kesan mendalam yang Mas Whook rasakan tentang hubungannya dengan Pak Dirdjo adalah, sebagai guru Pak Dirdjo sangat menghargai murid-muridnya. "Pak Dirdjo menggunakan bahasa Jawa krama (bahasa halus) bila berkata kepada murid-muridnya. Bahasa Jawa krama itu tidak menjadikan kami berjarak, hubungan kami justru dekat dan akrab," tuturnya.

Dalam mengajari silat, selain teknik silat itu sendiri, Pak Dirdjo juga sering bercerita soal masa mudanya. Mengenai kiprahnya menekuni ilmu silat maupun hal lainnya. Bahkan untuk memacu perkembangan ilmu silat Mas Whook bersaudara, Pak Dirdjo juga mengajari olah nafas dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.

"Misalnya soal menimba air dari sumur. Setiap tarikan tali timba hingga mengangkat ember berisi air, ada teknik olah nafasnya. Akhirnya pola hidup silat menjadi kebiasaan sehari-hari," kata Mas Whook.

Dalam perjalanan waktu, Mas Whook bersama kakak dan adik-adiknya juga mengembangkan silat ajaran Pak Dirdjo itu dengan menggelar latihan di halaman rumah mereka, baik di halaman samping maupun depan, di bawah pohon mangga di Jalan Lempuyangan Wangi 17 Yogyakarta (sekarang Jalan Hayam Wuruk).

Selain lima bersaudara tersebut, banyak remaja Yogyakarta yang berlatih silat kepada Pak Dirdjo. Mereka seperti Mas Dalmono (Ir Dalmono – ia melanjutkan studi ke Rusia dan bekerja di sana, Mas Suyono Hadi (Prof Dr Suyono Hadi – telah meninggal dunia, ia bekerja sebagai dokter dan dosen di Universitas Padjadjaran Bandung), kemudian ada juga Mas Sanyoto (Mas Toping) yang rumahnya berada di dekat rumah Pak Dirdjo di kawasan Pakualaman Yogyakarta.

Pak Dirdjo selain telah bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta juga melatih silat di Himpunan Siswa Budaya (HSB, sebuah unit kegiatan mahasiswa Universitas Gadjah Mada). Jelas saja para muridnya adalah para mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) pada awal-awal berdirinya kampus tersebut. Pak Dirdjo juga membuka kursus silat di kantornya.

Mas Whook sendiri belajar dan tamat di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Selama kuliah, ia tetap mengembangkan silat. Di UGM, Mas Whook terlibat aktif melatih silat di Unit Kegiatan Mahasiswa Himpunan Siswa Budaya, meneruskan langkah yang telah dirintis Pak Dirdjo.

Ketika tahun 1953 Pak Dirdjo pindah ke Surabaya berkaitan dengan tugasnya sebagai pegawai negeri di Kantor Kebudayaan Jawa Timur Urusan Pencak Silat, maka murid-muridnya di Yogyakarta yang berlatih di Universitas Gadjah Mada maupun di luar universitas itu bergabung menjadi satu dalam wadah bernama Himpunan Penggemar Pencak Silat Indonesia (HPPSI) dengan diketuai oleh Mas Dalmono.

Pak Dirdjo yang telah bekerja di Surabaya secara resmi mendirikan perguruan silat Perisai Diri pada 2 Juli 1955. Secara otomatis murid-murid Pak Dirdjo yang berada di Yogya juga menamakan silat yang mereka pelajari sebagai Perisai Diri.

Murid-murid dan teman latihan Mas Whook di Yogya kala itu seperti Mas Djokomoeljono (mantan Direktur Umum Bank BRI), Mas Hertiarto (Mas Itok, mantan Kepala Dinas Kehutanan Jawa Tengah), Mas Idham Samawi (mantan Bupati Bantul), Mas Marjono (pegawai Pabrik Gula Madukismo), Mas Eddy Moeljono (Prof Eddy Moeljono MSA PhD -- mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan UGM), Mas Pudyo Nirmolo (dokter), Mas Dalmono (dokter, belajar ke Rusia), dan lain-lainnya.


Tantangan Jago Garuda

“Belajar dan mengembangkan silat kala itu banyak tantangan. Misalnya saja suatu waktu ada seorang pemuda dari Solo yang ingin bergabung belajar silat. Ia mengaku telah belajar kungfu (kuntauw) teknik Garuda. Ia datang dengan sopan, duduk bersila. Intinya ia ingin mencoba ilmu PD. Ia datang secara ksatria. Menantang duel. Ia duduk bersila dengan sopan di barisan belakang setelah menyampaikan maksudnya,” kata Mas Whook.

Tantangan itu terjadi di suasana latihan di dalam rumah. Tantangan tersebut disambut baik oleh Mas Whook. Ia tidak turun tangan sendiri, melainkan meminta adiknya mewakili. “Teknik adik saya kala itu sudah lumayan. Ternyata jago kuntauw itu lihai dan tangguh. Adik saya sampai terpental dibuatnya, terjajar hingga terduduk di kursi. Wah, dia memang hebat,” katanya.

Setelah istirahat, pemuda itu masih ingin mencoba murid Mas Whook yang lain. Yang tampil adalah Mas Mardjono. “Jujur saja, pemuda itu sangat tangguh. Pukulan Garuda yang bisa dielakkan adik saya akhirnya mendarat di bambu. Bambu itu patah!” tuturnya.

Mas Mardjono ternyata tenang-tenang saja menghadapi jagoan dari Solo itu.

“Silakan saja dia menyerang. Saya sudah siap meladeni. Begitu ada kesempatan membalas serangan, langsung saya cecar. Kancing bajunya saya lepasi satu per satu. Dia mengelak ke sana ke mari, hingga akhirnya terdesak dan terpental hingga keluar rumah,” ujar Mas Mardjono sambil tertawa halus.

Dasar berjiwa ksatria, pemuda itu dengan jantan mengaku kalah. Ia pamit baik-baik dalam suasana persahabatan. Dilepas dengan saling berbalas hormat dengan Mas Whook dan murid-muridnya.


Pindah ke Bandung dan Kalimantan

Lulus dari UGM, Mas Whook bekerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ketika pindah ke Bandung, ia juga terus melatih di Universitas Padjadjaran Bandung, ITB, dan Universitas Parahiyangan. Beberapa anggota PD yang pernah berlatih bersama Mas Whook di Bandung seperti Mas Both Sudargo dan lain-lainnya. Beberapa anggota PD Bandung tingkat senior pasti tahu soal kiprah Mas Whook di Kota Kembang ini.

Pada tahun 1973 Mas Whook ditugaskan menangani PLN di Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Di kawasan baru ini ia juga mengembangkan silat Perisai Diri. Bahkan anggotanya mencapai ratusan. Ia pernah menuturkan bila longmarch, maka barisan seragam putih itu memanjang di seluruh jalanan di daerah itu. Mbak Tatik (Sri Kustiati), istri Mas Whook dengan setia mendampingi hingga tahun 1993.

“Mengembangkan PD di Kalimantan menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya sadar itu. Saya hanya pasrah kepada Tuhan. Niat saya baik, pasti ada jalan terbaik,” kata Mas Whook didampingi Mbak Tatik pada saat bincang-bincang santai di rumahnya di Jalan Kaliurang, Mbarek, Yogyakarta suatu malam.

Dalam pertandingan silat, misalnya, penggunaan ilmu kanuragan masih biasa dilakukan pada tahun 1970 – 1980-an. Padahal ilmu kanuragan yang bila di Jawa dikenal sejenis Lembu Sekilan, Bajra Geni, Gares Linggis, dan lain-lainnya jelas dilarang sebab membahayakan pesilat yang bertanding. Pertandingan adalah olahraga, bukan pertarungan hidup-mati.

“Saya yang memeriksa setiap pesilat yang akan bertanding. Bismillah. Ternyata benar, ada yang menyimpan mantra yang tertulis di kain, dan sejenisnya. Tulisan rajah itu saya ambil. Dan Alhamdulillah, semua menurut. Ofisialnya juga tidak protes. Pertandingan lancar, berjalan sesuai kaidah olahraga silat,” ujar bapak tiga anak ini.

Karena ketegasannya dan tidak pernah memihak satu perguruan mana pun, maka di kalangan dunia persilatan Kalimantan Selatan, Mas Whook sering dipercaya menjadi Ketua Wasit/Juri. Bahkan ia dipercaya pula menjadi pengurus IPSI Kalimantan Selatan

Ada juga pengalaman yang membuat jantung Mas Whook serasa mau copot karena didera rasa khawatir yang amat sangat. Pendekar yang menerapkan sistem serang hindar senjata tanpa aba kepada para murid seniornya yang dianggap mumpuni itu pernah mendapati dahi salah satu muridnya tersambar pisau hingga berdarah-darah.

“Darah mengucur dari dahinya. Di sinilah tanggungjawab pelatih diuji. Saya selalu ingat ajaran Pak Dirdjo. Saya berdoa seusai ajaran itu dan memohon dengan pasrah kepada Allah. Dahi yang robek yang mengucurkan darah saya tutup dengan tangan. Saya mohon karunia Allah. Dan saya justru terkejut sendiri. Dahi robek itu telah menutup lagi. Hanya menyisakan goresan pisau. Allah Maha Pemurah dan Penyayang,” gumam Mas Whook.

Beberapa nama pesilat PD yang dianggap senior seperti Mas Chairul Anwar menjadi salah satu tulang punggung perkembangan PD di Kalimantan.

Selain mengembangkan silat di Banjar Baru, Mas Whook juga mengembangkan silat di Universitas Lambung Mangkurat, dan kantor Perusahaan Listrik Negara.

 

Berlatih dan Berlatih

Dengan postur tubuh yang terbilang kurus, dengan tinggi sekitar 165 cm dan berat badan tidak pernah lebih dari 60 kg, Mas Whook selalu menjaga kebugaran fisiknya. Ia selalu lari pagi, setidaknya itu ia lakukan terus hingga menjelang usia 70 tahun.

Kelenturan tubuhnya pun masih prima. Mas Whook dengan santai bisa mencium lutut dari posisi berdiri dan membungkuk, dua tangannya memeluk betis. Gerakannya tetap ringan. Ketika memberi contoh kepada adik-adiknya di Yogya, ulah dia pun sering mengejutkan.

Pernah suatu ketika, ketika menjelang maghrib di Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Mas Whook terkejut ketika baru saja keluar dari kamar mandi nyaris ditabrak seorang mahasiswa.

“Tiba-tiba sudah ada telapak kaki yang nyaris menyentuh dada saya. Ternyata kaki Mas Whook. Saya kaget. Akhirnya kami tertawa bersama. Sungguh, saya tidak menyangka reflek Mas Whook tetap prima di usia tua,” kata Prasetya, mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Gadjah Mada, salah satu murid Mas Whook.


Terbuka Didebat

Mas Whook menghabiskan masa pensiunnya di Yogyakarta dan di Bandung. Mbak Tatik selalu setia mendampinginya. Bila berlatih di Yogya, beberapa anggota PD datang ke rumahnya di Jalan Kaliurang. Meja kursi dipinggirkan. Latihan di ruang tamu yang sempit. Latihan bisa berlangsung hingga jam 02.00 pagi.

Dalam melatih, Mas Whook terbuka untuk didebat. Adu argumentasi. Lalu mempraktikkan bersama apakah debatan adik-adiknya itu masuk akal atau tidak. Akhirnya latihan mirip dengan diskusi.

Di sisi lain, kadang-kadang, adik-adik seperguruan Mas Whook yang nakal-nakal itu memboncengkan Mas Whook dan Mbak Tatik untuk jajan makan mi goreng atau mi rebus Jawa di kawasan Terminal Terban, Yogya. Selisih umur yang mencapai 30 tahun lebih tidak menjadikan ada jarak.

Mas Whook, dan juga Mbak Tatik; menempatkan diri sebagai teman dan kakak. Tawa dan sendau-gurau menjadikan suasana makin akrab.

Mas Whook pun beberapa kali mendatangi rumah adik-adiknya yang ia latih dengan naik bus kota. Bila ia datang, adik PD itu gantian yang tergopoh-gopoh terkejut.

“Sudah... biasa saja. Saya hanya ingin mampir saja, kok,” tuturnya.

 

 

Mencari Murid

Mas Whook tetaplah sosok yang sederhana. Di Bandung ia juga melatih adik-adiknya. Beberapa kali juga melatih di tempat latihan PLN (Perusahaan Listrik Negara) Jakarta. Masa pensiun Mas Whook ia isi dengan melatih, melatih, dan juga berlatih. Ia seorang guru yang mencari murid.

Rasa sayang Mas Whook kepada adik-adiknya juga terlihat dalam beberapa pertemuan. Mas Whook pernah kepergok saat kebingungan mencari kopi bubuk, teh, dan gula yang akan ia suguhkan bila adik-adiknya datang berlatih ke rumahnya.

“Dari mana, Mas?” tanya adik Mas Whook itu.

“He he he... ini lho beli kopi dan gula. Nanti kita minum bersama,” tuturnya. Sesampai di rumah, Mas Whook berusaha menyibukkan diri di dapur. Adik-adiknya langsung mengejarnya, meminta Mas Whook duduk di ruang tamu saja. Adik-adik PD itu yang menggantikannya merebus air dan membuat minuman.

Mas Whook dengan senang hati melatih semua teknik PD untuk adik-adiknya yang menunjukkan ketekunannya. Akan tetapi, ia hanya tertawa lirih bila ada adiknya yang jarang berlatih akan tetapi menginginkan pengetahuan teknik yang banyak.

Mas kita ini pernah terkejut, terhenyak, ketika salah satu adiknya yang ia latih berkata, “Apakah semua ilmu PD yang Mas Whook miliki akan dibawa ke liang kubur? Beberapa Mas Pendekar telah dipanggil Tuhan. Ilmu silat para beliau itu saya yakin belum semua diberikan kepada adik-adiknya. Mungkin, bila diberikan semua pun, ilmu itu belum tentu bisa tuntas dilatih, apalagi bila tidak diberikan. Jelas adik-adik tidak akan pernah tahu seberapa banyak sebenarnya ilmu PD.”

Mas Whook memandang adiknya itu lekat-lekat. Menarik nafas dalam-dalam. Memejamkan mata sebentar. Kemudian memandang si adik itu dengan lembut.

Sejak itu, kapan pun adik-adiknya datang ke rumahnya di Yogya, Mas Whook siap melatih. Bila perlu hingga subuh.

Mas Whook dan Mbak Tatik juga pernah tampil berdemontrasi memperagakan serang hindar senjata kipas melawan tangan kosong di Pagelaran Kraton Yogyakarta pada acara Welcome Party Perisai Diri International Championship IV tahun 2005.

Untuk mempersiapkan demontrasinya itu, Mas Whook dengan serius berlatih terus-menerus selama beberapa hari bersama Mbak Tatik yang memegang kipas.

Meski sudah level pendekar, Mas Whook masih saja meminta salah satu adiknya yang sering dilatihnya untuk menilainya.

"Mas, tolong, apa pantas teknik seperti ini tampil di depan Sultan Hamengku Buwono X dan seluruh anggota Perisai Diri sedunia? Coba kami dilihat lagi. Bila jelek, jangan ragu untuk bicara apa adanya. Lebih baik tidak tampil. Saya harus tahu diri," tuturnya.

Begitulah Mas Whook, ia memanggilk adik-adiknya juga dengan sebutan "Mas". Sebutan itu sama sekali tidak menjadikan si adik besar kepala. Ia tahu, sebutan itu adalah bentuk ungkapan rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya.

Si adik ini pun menunggu Mas dan Mbak-nya berlatih keras. Si adik juga tidak mau penampilan dua kakak perguruannya ini setengah-setengah. Harus bagus. Maka si adik tanpa segan-segan meminta Mas Whook dan Mbak Tatik mengulangi beberapa kali rangkaian gerak yang telah mereka susun. Mereka berdua bersimbah keringat.

Mereka berdua akhirnya tampil di panggung Pagelaran Kraton Yogyakarta. Melengkapi penampilan tim demonstrasi dari Belanda, Jepang, Australia, dan Bali. Tepuk tangan mengiringi usainya demontrasi pasangan jago tua yang kala itu berusia 67 tahun. Demontrasi mereka terekam dalam video milik PD Yogyakarta.

Ketika Mas Whook sakit keras dan dirawat di Rumah Sakit Panti RapihYogyakarta, si adik yang pernah dengan berani bertanya soal himpunan teknik PD yang dikuasai Mas Whook itu datang menjenguk pada pukul 02.00 dini hari. Mas Whook terbangun.

“Siapa yang di luar?” tanyanya kepada Mbak Tatik dan Mas Boby (salah satu putra MasWhook) yang menungguinya. Satu tabung kantung darah dan infus tergantung di tiang ranjang.

Setelah mendapat jawaban, ia meminta adiknya yang menjenguk masuk ke kamarnya. Pandangan Mas Whook terlihat gembira. Namun matanya sayu. Banyak yang ingin ia ungkapkan. Si adik tahu hal itu.

"Kasihan, kamu... Dengan siapa ke sini?" tanyanya.

“Jangan memikirkan macam-macam, Mas. Kami akan menjaga Mas Whook. Juga menjaga teknik yang Mas Whook berikan,” kata si adik ini sembari memegang kaki Mas Whook.

“Iya... ya..," kata Mas Whook lirih sambil tersenyum.

Pertemuan itu adalah pertemuan terakhir. Si adik itu mengajak tiga adik seperguruannya yang lain yang ingin menyumbangkan darah untuk memasok darah Mas Whook. Sebelumnya, belasan adik-adik PD Yogyakarta melakukan hal serupa.

Secara bergantian, tiga anak Mas Whook: Rr Rheini Devianty Koesumawardhani, R Bagoes Koesuma Utara, dan Rr Vivin Desianty Koesumawardhani, lalu Mbak Tatik, saudara-saudara Mas Whook, serta adik-adik PD Yogya menjaga Mas Whook. Mas Sunardi Sindumintono (Ketua Pengurus Daerah PD Yogyakarta) dan Mas Syaukat Ali mengoordinasi semua itu.

Tuhan akhirnya memanggil kembali Mas Whook pada 16 Juni 2009 pada usia 71 tahun. Jenazah Mas Whook dimakamkan di Magelang keesokan harinya, di pemakaman di dekat Akademi Militer Magelang. Seluruh anggota PD Yogyakarta, Solo, Boyolali, dan Semarang mengantarnya hingga peristirahatan terakhir dengan mengenakan seragam PD.

“Mas Whook selalu memikirkan silat Perisai Diri sepanjang hidupnya,” kata Mas Sunardi.

Mas Whook telah mengajari adik-adiknya untuk selalu hidup sederhana, pasrah kepada Allah, menjaga kesehatan dengan prima, mau membuka diri, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak takabur. (***)


(Herdjoko -- hasil perbincangan dengan Mas Whook sejak 2000 – 2009. Ditulis ulang di Wollongong, Australia 8-10 November 2010).


Last Updated on Wednesday, 17 November 2010 07:49
 
Copyright © 2012. Silat Perisai Diri. Designed by Shape5.com