Saturday May 19, 2012

Quote Of The Month

"Siapa saja yang ingin mencapai sukses, haruslah mendaki dan memanjatnya; bukan melompatinya..."

(R.M.S. Dirdjoatmodjo - Pendiri Perisai Diri)

bannerforum

News Feeds:
Kang Suryanto Harus Menghadapi Muaythai PDF Print E-mail
Written by Herdjoko   
Sunday, 28 March 2010 11:19

Herdjoko
Solo (PD)

Terjangan lutut maupun sodokan siku silih berganti mengarah tempat-tempat berbahaya. Lelaki berbobot 53 kg itu matanya tidak pernah lepas dari serangan-serangan gaya Muaythai tersebut. Beberapa kali serangan bisa ia elakkan, beberapa serangan lainnya ia amati gerakannya.

 

Setelah yakin, ia mengambil jarak. Menunggu lawannya yang dengan beringas mendesak dan berusaha mematikan langkahnya dengan serangan bertubi-tubi itu. Dan, hap... sebuah tendangan samping lurus langsung menerpa dada penyerang bertubuh lebih jangkung dan berbobot sekitar 64 kg tersebut.

 

Si penyerang masih belum percaya bila lawannya yang lebih kecil mampu mengatasi serangannya. Ia mengambil ancang-ancang. Mendekat dengan perlahan, dan siap melancarkan serangan siku sekuat tenaga mengarah pelipis. Akan tetapi, sebelum siku itu membentuk serangan, sebuah pukulan tangan kanan yang keras mendera dadanya. Ia terjajar.

"Saya sebenarnya sudah menolak tidak mau meladeni kemauannya. Ia memang ingin mencoba saya. Sudah saya jelaskan, saya datang ke Laos untuk mengajar silat, bukan malah menjadi sparring partner tanding. Tetapi pemuda itu tetap keras kepala. Ia memang ingin mencoba kemampuan saya. Yaa... terpaksa saya hadapi juga," kata Kang Suryanto, pelatih silat PD Bandung yang pernah menyandang juara dunia pencak silat kelas A dan B Putra.

Ia pernah melanglang buana ke Denhaag, Wina, dan beberapa kota di Asia. Pesilat yang suka menggunakan teknik Garuda dan Kera  ini beberapa kali menebarkan wangi Indonesia di negeri lain. Dan pada tahun 2007 ia harus menginjakkan kaki di negeri Laos.

"Saya harus mengenalkan silat. Dengan harapan negara Laos bisa meraih medali pada arena SEA Games. Ini tugas berat. Saya pesilat Indonesia yang harus menggembleng para pemula itu dari NOL," kata Kang Suryanto di sela-sela Invitasi Nasional Pencak Silat Pasir Pantai di Solo, Minggu (7/3/2010).

Namun dari tujuh calon murid yang akan digembleng silat itulah, salah satunya adalah mantan petarung Muaythai. "Dia ingin mencoba, saya langsung menjawabnya," tutur pesilat berambut perak ini.

Setelah beberapa kali serangan pemuda itu gagal karena papasan tendangan maupun pukulan, Kang Suryanto masih memberi bonus dengan teknik bantingan. "Nah, dia akhirnya menyerah. Dia sportif. Dia kemudian terus berlatih silat. Muaythai memang juga berkembang di Laos karena negara tetangga Thailand," katanya.

Sebagai duta dari Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia, Kang Suryanto mengajarkan teknik silat secara umum. Teknik laga hingga teknik seni. "Namun bagaimanapun juga roh teknik PD tetap saja yang keluar. Ketika sekolah-sekolah meminta berlatih silat, saya katakan silakan saja meminta pelatih silat PD," tuturnya.

Laos adalah  negara kecil berupa daratan pegunungan yang terjepit di antara negara-negara China di utara, Kamboja di selatan, Vietnam di timur, dan Myanmar dan Burma di barat laut. Berpenduduk 6,3 juta jiwa dengan agama mayoritas Buddha Theravada tumbuh berkembang sejak abad 14. Kala itu Laos diperintah oleh Kerajaan Nanzhao, lalu ketika ditaklukkan Thailand, negeri ini diperintah oleh Kerajaan Lan Xang.

Ketika Perancis menjajah negeri ini pada tahun 1893, Laos digabungkan dengan Indochina. Jepang melanda Laos pada Perang Dunia II. Selepas Jepang, Laos memerdekakan diri pada tahun 1949. Negeri ini juga pernah menjadi rebutan pengaruh antara Pathet Lao yang komunis dengan bantuan Uni Soviet melawan pengaruh Amerika yang didukung Perancis pada tahun 1975.

Akhirnya negara ini menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos hingga kini. Pada tahun 1997 masuk menjadi anggota ASEAN sehingga ikut aktif dalam SEA Games.

Kurang Tertarik


Rasa tertarik terhadap beladiri silat di Laos masih rendah. Kang Suryanto melihat ini kemungkinan juga disebabkan adanya legenda soal turunnya sosok dewa di negeri itu. Negeri Thailand mendapat kepala sehingga orangnya lebih pandai (menggunakan otaknya), Vietnam mendapatkan kaki dan tangan sehingga dikenal sebagai pekerja keras, dan Laos mendapatkan perut sehingga bila sudah cukup kenyang maka akan puas.

"Saya harus menumbuhkan semangat juang mereka. Saya tidak percaya dengan kisah tersebut.  Kendala bahasa secara perlahan bisa saya atasi. Namun menumbuhkan ethos kerja keras, itu yang paling sulit," ia menambahkan.

Selama tujuh bulan di Laos, semula ia bisa merekrut 30 peminat silat. Setelah digembleng, ia memilih tujuh pesilat. Empat putra dan tiga putri. Mereka itu yang kemudian dibawa ke SEA Games di Thailand. Hasilnya? Satu medali perunggu disumbangkan oleh tim silat.

Setelah SEA Games Thailand usai, ia pulang ke Indonesia. Menjelang SEA Games 2010 di Laos, Suryanto dipanggil lagi melatih silat di sana. "Langkah ini lebih mudah. Saya tinggal memanggil mereka yang pernah saya latih. Kali ini saya menggembleng 9 pesilat selama empat bulan. Hasilnya, Laos mendulang 1 medali emas, 2 perak, dan 4 perunggu," tuturnya.

 

 

suryanto-momon.jpg

 

 

Tugas mengembangkan silat di Laos itu sebenarnya semula ditawarkan kepada Mas Momon Ageng, pelatih nasional dari PD Surabaya. Namun karena pelatih ini harus mengurusi anak-anaknya yang akan masuk sekolah di tahun ajaran baru, maka peluang itu diberikan kepada Suryanto.

Saat Kang Suryanto akan pulang ke Indonesia, murid-muridnya meminta ia untuk tinggal lebih lama lagi di Laos. "Acan bode pai (Guru jangan pulang)," tutur para pesilat Laos tersebut.

"Tapi saya harus pulang. Ada keluarga yang menunggu di Bandung. Meski begitu, saya telah meletakkan dasar-dasar silat di Laos. Semoga lebih berkembang di sana," ujar pelatih PD Bandung ini.

Berapa besar pelatih silat dihargai di Laos yang bermata uang Kip itu?

Pada tahun 2007 Kang Suryanto mendapat bayaran 600 dollar AS per bulan. Kemudian pada tahun 2010 gaji itu naik menjadi 1.000 dollar AS per bulan.

"Saya hanya ingin siapapun yang mengajar silat di negeri orang harus bisa menghargai silat sebagai ilmu yang langka dan unik serta punya ciri khas. Jangan mau dihargai murah. Ini semata-mata bukan nilai uang itu, namun kita harus melihat pada sisi penghargaan terhadap beladiri bangsa Indonesia," kata Kang Suryanto. (***)

Last Updated on Thursday, 06 May 2010 09:39
 
Copyright © 2012. Silat Perisai Diri. Designed by Shape5.com